29/12/2017 No Comments Redaksi INFO KAMPUS , , , ,

Pengukuhan tiga guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya dilakukan secara bersamaan, hal ini menimbulkan beragam pertanyaan mengenai alasan dan kaitannya dengan pergantian rektor pada April 2018 mendatang.

Solidaritas-uinsa.org—Kamis (28/12) Tiga dosen UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya dikukuhkan menjadi guru besar secara bersamaan di Sport Center (SC) UINSA, pada Rapat Terbuka Senat UINSA. Acara tersebut dihadiri seluruh anggota komisi senat dan para tamu undangan, dari dosen UINSA dan keluarga para calon guru besar.

Ketiga dosen yang dikukuhkan menjadi guru besar ke-54, 55, dan 56 adalah Titik Triwulan Tutik dalam bidang Ilmu Hukum Tata Negara Fakultas Syariah dan Hukum, Damanhuri bidang Ilmu Hadis Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, dan Sahid HM bidang Ilmu Fiqh (Hukum Islam) Fakultas Syariah dan Hukum UINSA.

Tak Ada Kaitan: Syamsul Huda (berbaju putih) saat memberikan keterangan kepada Solidaritas di ruang kerjanya (28/12)

Timbul pertanyaan mengenai jumlah calon guru besar yang lebih banyak dari biasanya dan kaitannya dengan pergantian rektor. Syamsul Huda selaku Wakil Rektor I sekaligus ketua panitia acara menuturkan, alasan pengukuhan ini dilakukan secara bersamaan karena turunnya Surat Keputusan (SK) ketiga calon guru besar berdekatan. Juga karena tidak memungkinkan jika dilakukan pengukuhan pada tahun 2018, sebab tunjangan efektif turun pada Januari, kemudian pelaksanaan pengukuhan satu persatu itu menurutnya sangat tidak efektif. “Memang, hal itu tidak lazim, kalau di kampus ini, tapi sebenarnya hal ini sering dilakukan di kampus-kampus lain seperti UNAIR dan ITS, kan di sana guru besar jumlahnya ratusan,” ungkapnya kepada Solidaritas di ruang kerjanya (28/12).

Mengenai kaitannya dengan pergantian rektor, Syamsul menyatakan pengukuhan ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan pergantian rektor pada April 2018 mendatang dan murni hak yang bersangkutan jika memiliki keinginan untuk mencalonkan diri sebagai rektor, tentu dengan berbagai persyaratan yang telah ditentukan. “Memang tidak ada kaitannya, syarat jadi rektor UIN itu kan belum berumur 60 tahun, pernah menjabat manajerial di UIN, dan sudah profesor. Jadi ada syarat-syarat khusus dan tidak semua profesor bisa,” pungkas Syamsul Huda. (fjr/era/riq)

Comments

comments